Oleh KH. Rahmat Abdullah
Kalau ada kata malang bagi nasib selain manusia, itulah kata malang bagi nasib kemerdekaan, makhluk yang selalu dirindukan sebelum bertemu dan disia-siakan setelah tergapai. Kemerdekaan yang diperjuangkan para martir, beberapa tahun kemudian jatuh lagi ke tangan para penjarah, dengan cara dan tampilan lain. Apa perlu perang apabila beberapa tahun setelah kemerdekaan bangsa pejuang itu mengikuti ideologi dan langkah mantan musuhnya yang telah merenggut jutaan nyawa? Apa yang dilakukan China dan Vietnam setelah perjuangan ideologi mereka menang? Berkiblat seakurat atau sedekat mungkin dengan mantan musuh? Berapa jarak mereka dengan mantan penjajah mereka?
Sufi, burung unta & pembebasan sejati
Ada kontroversi dalam kiprah kaum sufi, antara tudingan fatalis, tak peduli dan anti perjuangan dunia di satu sisi dan sanjungan karena kepeloporan merubah kondisi masyarakat, membangun etos kemandirian sosial dan ekonomi, sampai perjuangan kemerdekaan di sisi lain. Untuk yang kedua, Afrika Utara menjadi contoh khas dengan gerakan Assanusiyah dan tarekat Sunniahnya (mereka lebih merupakan gerak reformasi daripada sufi). Terkait langsung atau tidak, dalam diri para penganutnya tersimpan energi yang luar biasa besarnya. Itulah semangat merdeka. Soal kapan mereka mulai action, kembali pada ketajaman analisa dan ketepatan kalkulasi atau kejernihan intuisi yang kerap di kalangan aliran khurafat disampul dengan kesakralan kewalian. Ta’wil dan pembenaran akhir akan selalu muncul. Bila ada rezim represif yang tangannya berlumuran darah ummat dan kaya dari hasil merampok kekayaan rakyat lalu didukung oleh ratusan gerakan tarekat dengan berbagai rumusan tasawuf, itulah sebagian dari contoh pertama.
Akankah kita tutup mata terhadap problematika ummat, seperti tudingan terhadap burung unta? Manusia gerak dan kader merdeka dituntut untuk mengantarkan ummat kepada tujuan agama itu diturunkan, “Mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya.” (QS. Al Baqarah: 257, Ibrahim: 1). Geraklah yang akan menyelesaikan tuntutan antara inovasi yang melahirkan wilayah aqidah, fiqh dan tasawuf atau akhlaq, atau kembali kepada ashalah (keaslian) kesederhanaan generasi awal. Gerak telah menyibukkan para sahabat dari permasalahan teoritik dan perdebatan kulit.
Seorisinil apa pun suatu seruan, bila tidak diusung oleh orang-orang yang bebas dari kejumudan, egoisme dan fanatisme golongan, maka bi’dah perpecahan dan saling membarakan akan subur. Mungkin, kurang apa kaum Khawarij dalam ikhlas dan semangat juang? Kejumudan (stagnansi, -red), kepicikan dan anti dialog telah menjerumuskan mereka sebagai kelompok bi’dah pertama; fi-atun syaqqal asha.
Sebaliknya kekayaan ilmiah kaum fuqaha dan ulama minus ikhlas dan komitmen perjuangan, hanya akan menyematkan di diri mereka sebutan ulama lisan. Tak ada yang dapat disebut sebagai tinggalan baik, lisana shidqin (lisan kejujuran) pada generasi mutakhir (QS. 26:84). Yahudi dengan dominasi informasi yang mereka simpangkan dan Nasrani dengan dominasi semangat beramal tanpa landasan yang kokoh, telah menjadi tawanan hawa nafsu, ketakaburan, kedengkian, kerahiban, keraguan, oportunisme, kultus indifidu dan berbagai penyakit sosial yang diidap sebagian penduduk dunia, dan menular ke jaringan tubuh ummat. Dunia terbelah dalam kutub-kutub Maghdub ‘alaihim (kemurkaan, -red) dan Dhaallien (kesesatan, -red). Ditunggu peran mereka yang meniti dan membimbing di atas jalan lurus.
lngatan Sejarah & Karat-karat Jahiliyah
Begitu panjangnya kisah Bani Israil dengan segala permasalahan mereka, mestinya jadi cermin bagi siapa yang membacanya. la kitab yang diturunkan-Nya dan didalamnya ada peringatan dan kemuliaan (QS. Al-Anbiya’: 10). Allah tidak menjadikan pemikiran kebangsaan dan kesukuan sebagai syarat untuk boleh menerima peringatan dan menjadikannya konsep kemenangan. Seluruh kisah Bani Israil yang tertindas (mustadh’afien) adalah cermin kita. Bukan karena kita Bani Israil, tetapi kita sejalan, sealur dan segelombang dengan nabi Musa & Harun serta para pengikut mereka yang beriman.
Seluruh bentuk kemuliaan dan sanjungan Allah atas kesabaran mereka adalah kemuliaan kita. Seluruh bentuk keburukan yang dicerca-Nya adalah kelemahan yang harus kita hindari. Bukankah kelakuan Bani Israil yang begitu gandrung dan kecanduan menyembah anak sapi, bagian dari kelupaan sejarah kita? Publik masih bisa menyaksikan epos kepahlawanan yang mulai kehilangan darah di panggung-panggung peringatan kemerdekaan atau tayangan basa-basi di layar kaca. Entah apa yang bergerak di otak para aktor 17-an ketika mereka mengejar, menyergap dan mengusir penjajah dengan patriotik dan heroik, yang jelas sesudah itu nyaris 100% jiwa dan irama hidup bangsa mencerminkan perilaku penjajah. Sangat bisa dipercaya bila Bani Israil sangat membenci bangsa Qibthy (Egypt) yang menzalimi mereka melalui Fir’aun dan sistemnya.
Mestinya begitu alergi mereka terhadap segala tradisi dan upacara keberhalaan dan kemusyrikan bangsa Qibthy. Tetapi ajaib, hanya beberapa saat setelah eksodus dan Fir’aun ditenggelamkan- Nya di laut, mereka segera meresolusi nabi Musa: “Hai Musa, buatkan kiranya untuk kami satu tuhan (berhala), sebagaimana mereka punya banyak tuhan (berhala)” (QS. Al-A’raf: 138). Begitu mudahnya mereka diperdayakan oleh Samiri (QS. Al-A’raf: 148). Sebaliknya begitu sukarnya mereka mengubah mentalitas dari budak yang pengecut, pesimisis dan fatalis menjadi merdeka dan optimis (QS. Al-Maidah: 24), fikiran rakus dan materialistik (QS. Al-Baqarah: 61), serta jiwa mengambang yang tak pernah merasa perlu menyapa Allah dengan kerendahan hati (QS. Al-Baqarah: 61).
Pasukan Muslimin & Kegentaran Musuh
Hukum berlaku bahwa sejumlah kecil orang memerintah sejumlah besar orang, dan tidak sebaliknya. Ada hal yang lebih perkasa dan berdaya dibandingkan dengan fisik, itulah jiwa. Kalau kemerdekaan adalah fitrah, maka kesalahan sesudah itu, bisa seperti orang yang makan salah niat atau lupa basmalah. Berkah kemerdekaan tercabut karena kehilangan nama Allah waktu mengumumkannya atau dorongan motivasi perang antar manusia berbeda warna.
Di antara kelebihan yang diberikan kepada Rasulullah SAW ialah, “Aku dimenangkan berkat ru’b (daya getar dan menggentarkan) sebulan perjalanan.” Para tiran sangat takut suatu saat rakyat akan menghukum mereka. Kekuatan Islam yang datang dengan keadilan yang berlaku untuk semua, menggenapkan ketakutan itu di hati para tiran dan koruptor. Rakyat mendapatkan kembali kemerdekaan, tanpa perlu merasa berkhianat kepada bangsa. Islam tidak datang atas nama bangsa, suku, ras dan warna, melainkan atas nama kemerdekaan dan keadilan universal.
Isti’mar, Kolonialisme, Persemakmuran dan Penjajahan
Bahasa menunjukkan bangsa, semoga masih relevan. Bahasa Melayu Indonesia masih memberikan makna penjajahan bagi kata colonialism (pendudukan, penjarahan, penjelajahan) . Disana kesan negatif dan jahat, masih terpelihara dengan baik. Bahasa Melayu Malaysia menyebutkan negara-negara bekas jajahan dengan Commonwealth alias persemakmuran. Para ahli kamus bahasa Arab modern memberikannya istilah Isti’mar (pemakmuran) , seperti Abu Louis Alyasui, pengarang kamus Munjid, memaknai kata thulaqaa (orang-orang yang diberi amnesti oleh Rasulullah SAW sebagai, “Orang-orang yang dimasukkan kedalam Islam secara paksa”).
Kesulitan berangkat sebagai pekerja legal, plus pemerasan yang selalu berjalan telah memurukkan mereka menjadi pekerja ilegal, indoktrinasi yang menyesatkan telah menggamangkan para pegawai untuk mengeritik atasan dan stigmasi permanen Islam sebagai kekumuhan, kebodohan dan keterbelakangan merangsang untuk mengkaji ulang entry merdeka. Kegagahan makna leksikal patriot dan anti penjajah, akankah hanya bertahan pada kata?
Ada pekik Merdeka. Tetapi semangat pemekiknya telah layu oleh hedonisme, pengkhianatan dan kebodohan.
Majalah Tarbawi Edisi 42 /Jumadas Tsaniyah 1423 H/29 Agustus 2002 M
Sabtu, 30 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
TAUJIH
Berkarya Untuk Bangsa Oleh: Izzuddin Abdul Majid, Lc.
dakwatuna.com - Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahi ladzi kholaqos samawati wal ardho waja’ala dhulumati wannuri watabaraka ladzi kholaqol mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala wahuwal ‘azizul ghofur waasyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalau lahul mulku walahul hamdu wakulla syaiin ‘indahu biaajalin muqoddar waasyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu ablagho man wa’adho wa ashdaqo man wa’ada wa anshoha man basysyaro wa anzdaro wa ahsanu man amala, washallallahu ‘alaihi wa’ala alihi wa ashhabihi ajma’in, amma ba’du
Ma’a syiral muslimin rahimakumullah,
Salah satu arti dan makna kehidupan seseorang adalah “apa yang dapat ia berikan kepada orang lain”, dan bagaimana agar pemberian itu bernilai ikhlas sehingga menjadi amal shaleh yang akan diterima di sisi Allah SWT.
Ajaran Islam sangatlah mensuport kepada kaum muslimin dan memberinya apresiasi yang tinggi kepada setiap muslim yang benar-benar beriman dan membuktikan imannya dalam bentuk kerja nyata yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat manusia.
Maka hampir pasti setiap ada kalimat iman didalam Al-Qur’an senantiasa di gandeng dengan kalimat amal shaleh. Karena dengan iman dan amal shaleh itulah derajat dan kemulyaan manusia akan dapat diperolehnya, yaitu derajat Muttaqin.
Sungguh begitu berat untuk mencapai derajat muttaqin tersebut sehingga predikat muttaqin ibarat “Tropi ” yang senantiasa diperebutkan oleh setiap muslim.
Adalah hak seluruh kaum muslimin dari suku apapun dan dari bangsa manapun untuk memperolehnya.
Inilah bukti bahwa Islam itu benar-benar rahmat bagi seluruh alam semesta, maka adanya pluralitas atau keragaman dalam kehidupan masyarakat yang terdiri dari berbagai suku bangsa adalah sebagai sebuah realita untuk membuktikan dan mengaplikasikan ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin, risalah Islam datang dari Allah di sampaikan kepada seluruh ummat manusia melalui tugas suci para Nabi dan Rasul-Nya, sedang Nabi Muhammad di suruh menyampaikan risalah ini pada seluruh ummat manusia , masyarakat yang pluralis yang terdiri dari berbagai suku dan bangsa.
“Dan Kami tidaklah mengutus engkau (Muhammad) kecuali untuk seluruh manusia dengan membawa berita gembira dan peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” Saba:28
Hadirin jama’ah shalat jum’at rahimakumullah.
Untuk mendapatkan nilai “taqwa” maka sangatlah di tentukan oleh kualitas dan produktifitas amal, kualitas itu tentu mencakup makna kikhlasan dan keteladanan kepada Rasulullah saw, serta manfaat dari amal perbuatannya bagi diri dan orang lain. Karenanya Allah SWT memberikan prestasi manusia atas keberhasilannya dengan dasar kualitas kerjanya, bukan semata-mata kuantitasnya.
“Maha suci Allah yang di tangan-Nya seluruh kerajaan dan Dia berkuasa tas segala sesuatu. Allah yang telah menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik kualitas amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” Al-Muluk :1-2
Demikian pula Rasulullah saw menjelaskan bahwa orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat keberadaannya untuk orang lain.
رَسُولَ اللَّهِ , أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ وَأَيُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا , وَمَنَ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ , وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ مَلأَ اللَّهُ قَلْبَهُ رَجَاءً يَوْمَ الْقِيَامَةِ .
“Rasulullah saw ditanya tentang siapa orang yang paling dicintai Allah? dan perbuatan-perbuatan apa yang paling dicintai Allah? Nabi saw menjawab : “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain, dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah ; memasukkan kegembiraan pada seorang muslim, menghilangkan kesusahannya, melunasi hutangnya, mengusir kelaparannya, bersama menyelesaikan sebuah hajat saudaraku muslim lebih aku sukai dari pada sebulan ber i’tikaf di masjid Nabawi, siapa orang yang dapat mengendalikan amarahnya maka Allah akan menutupi keburukannya, siapa yang mampu meledakkan emosi namun ia mampu mengendalikan emosinya, maka Allah akan memenuhi harapan hatinya di hari kiamat dan orang yang bersamanya.” Al-Hadist
Kalau surat Al Muluk diatas menekankan pada kualitas dengan spirit fertikal, sedangkan hadist Nabi menjelaskan kuantitasnya dengan spirit horisontal, artinya kualitas amal perbuatan yang diinginkan oleh Allah adalah amal perbuatan yang bermanfaat bagi seluruh ummat manusia.
Jadi semakin banyak manfaat yang diperoleh orang lain atas karya kita, atas amal kita semakin besar pula kebaikan dan makna kesalihan amal kita di mata Allah SWT. maka di manapun kita beramal jadikan niat amal itu sebagai ibadah kita kepada Allah, karena sesunguhnya dimana kita hidup maka di situlah tempat pengabdian kita kepada-Nya, di situ pula Allah memberi amanah dan tanggung jawab kepada kita. Sebagai anak bangsa Indonesia maka yang lahir dan di besarkan di negeri ini marilah kita buktikan kecintaan kita dengan beramal dan berkarya untuk manfaat dan kemaslahatan diri kita, keluarga, masyarakat bangsa dan Negara kita
“Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. At-Taubah:105
Hadirin Jama’ah shalat jum’at rahimakumullah.
Ajaran Islam menganjurkan kepada ummatnya untuk bekerja dalam semua skill dan lapangan dan dimana saja, apapun kedudukan kita, prinsipnya selama pekerjaan itu halal, bermanfaat dan tidak membawa madharat bagi kehidupan, maka kesemuanya memungkinkan untuk menjadi amal shaleh
Jadi di manapun kita bekerja apapun profesinya di situlah kita beramal shaleh, di situlah berda’wah dan di situ pula beribadah karena sesungguhnya di manapun kita berada, di situlah bumi Allah SWT. Dan sah-sah saja melalui profesi apapun yang telah kita pilih di situlah kita senantiasa berusaha untuk meraih pahala sebesar-besarnya serta keridhoan dari Allah SWT. sesuai dengan janji Allah yang akan menilai dan memberi pahala sekecil apapun amal kita.
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang dia kerjakan” Al-An’am:132
Hadirin jama’ah shalat jum’at rahimakumullah
Sebagai anak bangsa saya yakin bahwa kita semua ingin, bangsa ini segera berubah menjadi bangsa yang terbaik, bangsa yang makmur, adil dan sejahtera lahir dan batin, meski kita menyadari bahwa kesemua itu tidak mudah mencapainya.
Bahkan sudah cukup lama kemerdekaan negeri ini kita peroleh, namun cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur nyatanya belum terwujud sampai sekarang, bahkan salah satu agenda di era reformasi untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme sampai hari ini masih menjadi agenda bangsa yang tak kunjung terselesaikan.
Maka sangatlah ironis jika kita hanya gencar mengkritik pemerintah sementara kita hanya duduk berpangku tangan tidak mengerjakan apapun, dan tidak memberi solusi ataupun pemecahannya, bisa jadi ternyata kita adalah bagian dari problema itu sendiri.
Untuk itu, marilah kita buka hati, fikiran dan wawasan, satukan kekuatan dan energi, singsingkan lengan baju untuk bersama membuktikan bahwa kita bisa bekerja berkarya memajukan negeri kita sebagaimana bangsa-bangsa lain. Kita songsong masa depan Indonesia yang lebih baik dari hari ini. Marilah kita beramal sesuai dengan profesi, kedudukan, tanggung jawab dan kemampuan kita masing-masing .
Sungguh berat tanggung jawab kita ketika kita mengatakan “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam” sementara realita ummatnya senantiasa terpuruk dan tertinggal dari bangsa bangsa lain.
“Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya kami-pun berbuat pula. Dan tunggulah (akibat perbuatanmu ) sesungguhnya kami-pun menunggu pula.” Hud:121-122
Demikianlah ajaran Islam mendorong semangat kepada ummatnya untuk kompetisi di tengah-tengah ummat yang lain untuk bekerja keras meraih prestasi, kemajuan dan kemenangan dalam kehidupannya.
jika kita umat Islam tidak menunjukkan kerja dan prestasinya, maka bersiap-siaplah kita untuk menjadi budak orang atau bangsa lain didalam negeri sendiri, karena sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mau merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri.
Semoga kita tidak menjadi “ayam yang mati diatas lumbung” akan tetapi jadilah “gajah yang mati meninggalkan gading”, di negeri tercinta ini barakallu li walakum
dakwatuna.com - Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahi ladzi kholaqos samawati wal ardho waja’ala dhulumati wannuri watabaraka ladzi kholaqol mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala wahuwal ‘azizul ghofur waasyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalau lahul mulku walahul hamdu wakulla syaiin ‘indahu biaajalin muqoddar waasyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluhu ablagho man wa’adho wa ashdaqo man wa’ada wa anshoha man basysyaro wa anzdaro wa ahsanu man amala, washallallahu ‘alaihi wa’ala alihi wa ashhabihi ajma’in, amma ba’du
Ma’a syiral muslimin rahimakumullah,
Salah satu arti dan makna kehidupan seseorang adalah “apa yang dapat ia berikan kepada orang lain”, dan bagaimana agar pemberian itu bernilai ikhlas sehingga menjadi amal shaleh yang akan diterima di sisi Allah SWT.
Ajaran Islam sangatlah mensuport kepada kaum muslimin dan memberinya apresiasi yang tinggi kepada setiap muslim yang benar-benar beriman dan membuktikan imannya dalam bentuk kerja nyata yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat manusia.
Maka hampir pasti setiap ada kalimat iman didalam Al-Qur’an senantiasa di gandeng dengan kalimat amal shaleh. Karena dengan iman dan amal shaleh itulah derajat dan kemulyaan manusia akan dapat diperolehnya, yaitu derajat Muttaqin.
Sungguh begitu berat untuk mencapai derajat muttaqin tersebut sehingga predikat muttaqin ibarat “Tropi ” yang senantiasa diperebutkan oleh setiap muslim.
Adalah hak seluruh kaum muslimin dari suku apapun dan dari bangsa manapun untuk memperolehnya.
Inilah bukti bahwa Islam itu benar-benar rahmat bagi seluruh alam semesta, maka adanya pluralitas atau keragaman dalam kehidupan masyarakat yang terdiri dari berbagai suku bangsa adalah sebagai sebuah realita untuk membuktikan dan mengaplikasikan ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin, risalah Islam datang dari Allah di sampaikan kepada seluruh ummat manusia melalui tugas suci para Nabi dan Rasul-Nya, sedang Nabi Muhammad di suruh menyampaikan risalah ini pada seluruh ummat manusia , masyarakat yang pluralis yang terdiri dari berbagai suku dan bangsa.
“Dan Kami tidaklah mengutus engkau (Muhammad) kecuali untuk seluruh manusia dengan membawa berita gembira dan peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” Saba:28
Hadirin jama’ah shalat jum’at rahimakumullah.
Untuk mendapatkan nilai “taqwa” maka sangatlah di tentukan oleh kualitas dan produktifitas amal, kualitas itu tentu mencakup makna kikhlasan dan keteladanan kepada Rasulullah saw, serta manfaat dari amal perbuatannya bagi diri dan orang lain. Karenanya Allah SWT memberikan prestasi manusia atas keberhasilannya dengan dasar kualitas kerjanya, bukan semata-mata kuantitasnya.
“Maha suci Allah yang di tangan-Nya seluruh kerajaan dan Dia berkuasa tas segala sesuatu. Allah yang telah menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa diantara kamu yang paling baik kualitas amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” Al-Muluk :1-2
Demikian pula Rasulullah saw menjelaskan bahwa orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat keberadaannya untuk orang lain.
رَسُولَ اللَّهِ , أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ وَأَيُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا , وَمَنَ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ , وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ مَلأَ اللَّهُ قَلْبَهُ رَجَاءً يَوْمَ الْقِيَامَةِ .
“Rasulullah saw ditanya tentang siapa orang yang paling dicintai Allah? dan perbuatan-perbuatan apa yang paling dicintai Allah? Nabi saw menjawab : “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain, dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah ; memasukkan kegembiraan pada seorang muslim, menghilangkan kesusahannya, melunasi hutangnya, mengusir kelaparannya, bersama menyelesaikan sebuah hajat saudaraku muslim lebih aku sukai dari pada sebulan ber i’tikaf di masjid Nabawi, siapa orang yang dapat mengendalikan amarahnya maka Allah akan menutupi keburukannya, siapa yang mampu meledakkan emosi namun ia mampu mengendalikan emosinya, maka Allah akan memenuhi harapan hatinya di hari kiamat dan orang yang bersamanya.” Al-Hadist
Kalau surat Al Muluk diatas menekankan pada kualitas dengan spirit fertikal, sedangkan hadist Nabi menjelaskan kuantitasnya dengan spirit horisontal, artinya kualitas amal perbuatan yang diinginkan oleh Allah adalah amal perbuatan yang bermanfaat bagi seluruh ummat manusia.
Jadi semakin banyak manfaat yang diperoleh orang lain atas karya kita, atas amal kita semakin besar pula kebaikan dan makna kesalihan amal kita di mata Allah SWT. maka di manapun kita beramal jadikan niat amal itu sebagai ibadah kita kepada Allah, karena sesunguhnya dimana kita hidup maka di situlah tempat pengabdian kita kepada-Nya, di situ pula Allah memberi amanah dan tanggung jawab kepada kita. Sebagai anak bangsa Indonesia maka yang lahir dan di besarkan di negeri ini marilah kita buktikan kecintaan kita dengan beramal dan berkarya untuk manfaat dan kemaslahatan diri kita, keluarga, masyarakat bangsa dan Negara kita
“Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. At-Taubah:105
Hadirin Jama’ah shalat jum’at rahimakumullah.
Ajaran Islam menganjurkan kepada ummatnya untuk bekerja dalam semua skill dan lapangan dan dimana saja, apapun kedudukan kita, prinsipnya selama pekerjaan itu halal, bermanfaat dan tidak membawa madharat bagi kehidupan, maka kesemuanya memungkinkan untuk menjadi amal shaleh
Jadi di manapun kita bekerja apapun profesinya di situlah kita beramal shaleh, di situlah berda’wah dan di situ pula beribadah karena sesungguhnya di manapun kita berada, di situlah bumi Allah SWT. Dan sah-sah saja melalui profesi apapun yang telah kita pilih di situlah kita senantiasa berusaha untuk meraih pahala sebesar-besarnya serta keridhoan dari Allah SWT. sesuai dengan janji Allah yang akan menilai dan memberi pahala sekecil apapun amal kita.
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang dia kerjakan” Al-An’am:132
Hadirin jama’ah shalat jum’at rahimakumullah
Sebagai anak bangsa saya yakin bahwa kita semua ingin, bangsa ini segera berubah menjadi bangsa yang terbaik, bangsa yang makmur, adil dan sejahtera lahir dan batin, meski kita menyadari bahwa kesemua itu tidak mudah mencapainya.
Bahkan sudah cukup lama kemerdekaan negeri ini kita peroleh, namun cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur nyatanya belum terwujud sampai sekarang, bahkan salah satu agenda di era reformasi untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme sampai hari ini masih menjadi agenda bangsa yang tak kunjung terselesaikan.
Maka sangatlah ironis jika kita hanya gencar mengkritik pemerintah sementara kita hanya duduk berpangku tangan tidak mengerjakan apapun, dan tidak memberi solusi ataupun pemecahannya, bisa jadi ternyata kita adalah bagian dari problema itu sendiri.
Untuk itu, marilah kita buka hati, fikiran dan wawasan, satukan kekuatan dan energi, singsingkan lengan baju untuk bersama membuktikan bahwa kita bisa bekerja berkarya memajukan negeri kita sebagaimana bangsa-bangsa lain. Kita songsong masa depan Indonesia yang lebih baik dari hari ini. Marilah kita beramal sesuai dengan profesi, kedudukan, tanggung jawab dan kemampuan kita masing-masing .
Sungguh berat tanggung jawab kita ketika kita mengatakan “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam” sementara realita ummatnya senantiasa terpuruk dan tertinggal dari bangsa bangsa lain.
“Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya kami-pun berbuat pula. Dan tunggulah (akibat perbuatanmu ) sesungguhnya kami-pun menunggu pula.” Hud:121-122
Demikianlah ajaran Islam mendorong semangat kepada ummatnya untuk kompetisi di tengah-tengah ummat yang lain untuk bekerja keras meraih prestasi, kemajuan dan kemenangan dalam kehidupannya.
jika kita umat Islam tidak menunjukkan kerja dan prestasinya, maka bersiap-siaplah kita untuk menjadi budak orang atau bangsa lain didalam negeri sendiri, karena sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu mau merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri.
Semoga kita tidak menjadi “ayam yang mati diatas lumbung” akan tetapi jadilah “gajah yang mati meninggalkan gading”, di negeri tercinta ini barakallu li walakum

Tidak ada komentar:
Posting Komentar